Songkick And CrowdSurge Merge, Raise $16M To Combine Concert Discovery And Ticketing

Posted on

TechCrunch

Half of concert tickets go unsold because fans don’t know the shows are happening. To fix that, 10 million user concert discovery app Songkick is merging with white-label artist-to-fan ticket seller CrowdSurge. Under the name Songkick they’ve also raised a $16 million Series C from Access, Sequoia, and Index to grow the team.

Together, they could help people find out about nearby shows and then buy tickets straight from the artist. That lets musicians earn a bigger cut at a lower price than if concert junkies bought tickets through the venue or a traditional big seller like Ticketmaster. The added firepower will help Songkick battle its rival discovery app BandsInTown for concert dollars that are poised to grow as streaming makes it easier for casual listeners to become devout fans.

Flume_1

While the press and public focus on Spotify, YouTube, and iTunes, the concert industry is actually twice the…

Lihat pos aslinya 594 kata lagi

How Many Languages Your Startup Needs To Know

Posted on

TechCrunch

[tc_contributor_byline slug=”Jeni-Mayorskaya”]

Siri can handle questions and make jokes in 17 languages. Is that a lot or little? How many languages must your startup know to reach its entire target audience? We studied some of the most successful companies and found some interesting results.

Functionality and price explain only part of the success of many startups. The popularity of many “go-to” services also owes to beautiful, easy-to-use mobile and web interfaces combined with an edgy brand voice. And doing so requires good writing and excellent translation.

Check out the Hotel Tonight app and the quirky-yet-fresh copy that draws you in. Or catch a ride with Uber in France, whose interface stylishly adjusts to let you order by tapping “Commander ici.” Conversely, poorly translated or bland interfaces can discourage users from purchasing.

Over the last decade, the tech industry has gotten very good at scaling technology. A startup can go from…

Lihat pos aslinya 667 kata lagi

Incremental Design Won’t Save You

Posted on

TechCrunch

Editor’s note: Tadhg Kelly is a video game design consultant and the creator of leading blog What Games Are. He is currently writing a book called Core Game Design. You can follow him on Twitter here.

Last week I put on my business 101 hat and talked about four typical vectors of competition. (Brief recap: meaningful features, distribution, marketing stories and value) I also mentioned that the preferred vector of most businesses is to compete on distribution. Competing on value destroys margins while competing on features or marketing stories risks total failure. Distribution, on the other hand, is risky but fixable if you have a product amenable to it.

In games (but this applies to all sorts of startups too) most studios follow that “distribution” strategy to a greater or lesser degree. A lot of them are concerned about where to find players, how to hold onto them, how to…

Lihat pos aslinya 996 kata lagi

Didi Kuaidi, China’s Dominant Taxi App Firm, Launches Carpooling Service

Posted on

TechCrunch

Uber launched a nonprofit car-pooling service in China called People’s Uber last year, and now its biggest rival — and China’s largest ride-sharing service — has followed suit with a service of its own.

‘Didi Shun Feng Che’ is the new car-pooling service from Didi Kuaidi, the entity created from the billion dollar merger between Didi Dache and Kuaidi Dache, two organizations estimated to account for over 95 percent of China’s taxi-hailing app industry.

Like other carpooling services, Didi Shun Feng Che uses a smartphone app and “big data and advanced matching techniques” to match car owners with customers looking for a ride. It is initially live in Beijing — from today — and the company said it plans to expand to cover 26 Chinese cities by the end of this month.

Didi Kuaidi claimed it has already recruited one million drivers to the platform, while it is using a varying price structure…

Lihat pos aslinya 280 kata lagi

Cara Mudah Mendeteksi Uang Palsu

Posted on Updated on

Jakarta (ANTARA News) – Bulan Ramadhan sudah menjelang, lalu Lebaran pun akan datang.

Sudah menjadi tradisi di Indonesia, di bulan yang penuh karunia dan berkah itu, tingkat kebutuhan belanja penduduk Indonesia meningkat berlipat-lipat, bukan saja untuk kebutuhan pangan dan sandang tetapi juga untuk membeli benda-benda mewah seperti elektronik dan kendaraan.

Dengan peningkatan jumlah belanja itu, sudah pasti uang tunai yang dipegang masyarakat juga akan meningkat meski pembayaran nontunasi seperti kartu kredit dan kartu debit jumlah penggunanya juga bertambah.

BI memperkirakan kebutuhan uang selama masa puasa Ramadhan dan Lebaran tahun 2011 sebesar Rp61,36 triliun atau meningkat Rp6,57 triliun sekitar 12 persen dibandingkan realisasi kebutuhan tahun sebelumnya sebesar Rp54,78 triliun.

Untuk memenuhi kebutuhan itu, BI sudah menyiapkan persediaan uang tunai nasional sampai akhir Juli sebesar Rp123,39 triliun terdiri atas uang pecahan besar Rp106,86 triliun dan uang pecahan kecil Rp16,53 triliun.

Berlimpahnya uang yang ada di masyarakat, tentu juga menjadi incaran para penjahat pembuat uang palsu, yang melihat puasa dan Lebaran adalah kesempatan besar menukarkan uang palsu mereka.

Lalu bagaimana cara mudah untuk mendeteksi uang palsu dan apa yang harus dilakukan jika kita mendapatkan uang palsu?

Uang palsu adalah uang yang dicetak atau dibuat oleh perseorangan maupun perkumpulan/sindikat tertentu dengan tujuan uang palsu hasil cetakannya dapat berlaku sesuai nilainya dengan sebagaimana mestinya.

Untuk mendeteksi, mengidentifikasi dan melihat perbedaan antara uang yang asli dengan uang palsu, BI sudah beberapa tahun ini memperkenalkan cara yang cukup sederhana dan bisa dilakukan siapa saja dengan mudah, yaitu dengan cara 3D yaitu, dilihat, diraba dan diterawang.

Dilihat, lihatlah uang yang anda miliki, apakah warnanya pudar, kusam, pucat, luntur, patah-patah, atau masalah lainnya. Pastikan uang yang anda periksa tadi memiliki warna, corak dan gambar yang baik serta memiliki tanda-tanda uang asli seperti tanda air yang menggambarkan pahlawan-pahlawan nasional, bahan kertas serta benang tali pengaman yang berada di dalam uang tersebut.

Uang-uang pecahan besar biasanya memiliki tanda keaslian lain seperti corak gambar dengan warna yang mencolok dan sulit ditiru penjahat. Pastikan uang itu benar-benar asli.

Diraba, usaplah uang tersebut apakah uang itu terasa kasar atau lembut. Uang yang asli biasanya agak kaku dan tebal bahan kertasnya. Di samping itu pada angka atau gambar uang biasanya sengaja dicetak agak menonjol dan akan terasa jika diusap-usap. Rabalah uang anda apakah sudah asli atau belum.

Diterawang, langkah yang terakhir adalah menerawangkannya ke sumber cahaya kuat seperti matahari dan lampu. Setelah diterawang lihatlah bagian tali pengaman dan tanda mata air apakah dalam kondisi baik atau tidak.

Belakangan BI juga menambahkan beberapa fitur pengamanan keaslian uang untuk dapat dilihat di lampu ultra violet yang harganya terjangkau oleh masyarakat

Dalam buku panduan ciri-ciri keaslian uang rupiah yang dikeluarkan BI, dijelaskan ada delapan tanda-tanda tertentu yang bertujuan mengamankan uang Rupiah dari upaya pemalsuan.

Secara umum, ciri-ciri keaslian uang Rupiah dapat dikenali dari unsur pengaman yang tertanam pada bahan uang dan teknik cetak yang digunakan, yaitu :
1. Tanda Air (Watermark) dan “Electrotype”
Pada kertas uang terdapat tanda air berupa gambar yang akan terlihat apabila diterawangkan ke arah cahaya.

2. Benang Pengaman (Security Thread)
Ditanam di tengah ketebalan kertas atau terlihat seperti dianyam sehingga tampak sebagai garis melintang dari atas ke bawah, dapat dibuat tidak memendar maupun memendar di bawah sinar ultraviolet dengan satu warna atau beberapa warna.

3. Cetak Intaglio
Cetakan yang terasa kasar apabila diraba.

4. Gambar Saling Isi (Rectoverso)
Pencetakan suatu ragam bentuk yang menghasilkan cetakan pada bagian muka dan belakang beradu tepat dan saling mengisi jika diterawangkan ke arah cahaya.

5. Tinta Berubah Warna (Optical Variable Ink)
Hasil cetak mengkilap (glittering) yang berubah-ubah warnanya bila dilihat dari sudut pandang yang berbeda.

6. Tulisan Mikro (Micro Text)
Tulisan berukuran sangat kecil yang hanya dapat dibaca dengan menggunakan kaca pembesar.

7. Tinta Tidak Tampak (Invisible Ink)
Hasil cetak tidak kasat mata yang akan memendar di bawah sinar ultraviolet.

8. Gambar Tersembunyi (Latent Image)
Teknik cetak dimana terdapat tulisan tersembunyi yang dapat dilihat dari sudut pandang tertentu.

Dengan delapan tanda-tanda tersebut, sebenarnya sangat mudah bagi masyarakat dengan mudah menentukan apakah uang yang dipegangnya asli atau tidak tanpa menggunakan alat apapun, cukup dengan 3D, dilihat, diraba dan diterawang.

Namun, memang tidak semua masyarakat mengetahui dan memahami tanda-tanda keamanan yang sudah dibuat oleh BI ini, apalagi biasanya sang penjahat juga mencari kesempatan yang aman untuk mengedarkan uang palsunya seperti di malam hari di warung yang agak gelap atau saat warung sedang ramai pembeli.

Laporkan Polisi
Dalam buku panduan BI itu juga disebutkan bahwa masyarakat atau bank yang menemukan uang yang diragukan keasliannya dapat meminta klarifikasi kepada kantor Bank Indonesia dengan cara menyampaikan surat permintaan klarifikasi beserta fisik uang yang diragukan keasliannya.

Bank Indonesia akan menyampaikan informasi hasil penelitian atas uang yang diragukan keasliannya kepada masyarakat atau bank yang mengajukan permintaan klarifikasi dan akan memberikan penggantian atas uang yang diragukan keasliannya yang dinyatakan asli.

Dalam hal uang yang diragukan keasliannya dinyatakan palsu Bank Indonesia tidak akan memberikan penggantian atas uang tersebut.

Sementara jika menemukan uang palsu, masyarakat dan bank melakukan upaya seperti: menahan uang palsu tersebut dan tidak diedarkan kembali, tidak merusak fisik uang palsu, melaporkan dan menyerahkan uang palsu tersebut kepada kantor Bank Indonesia setempat atau pihak Polri terdekat.

Pelaporan ke Bank Indonesia atau Kepolisian merupakan upaya penting untuk mencegah uang palsu yang lain beredar di masyarakat dengan mencari sumber pengedar dan pembuatnya.

Kepala Biro Humas Bank Indonesia Difi A Johansyah menambahkan untuk mencegah masyarakat mendapatkan uang palsu antara lain adalah dengan menggunakan pembayaran non tunai jika berbelanja dalam jumlah besar.

“Untuk penukaran uang kecil sebaiknya juga dilakukan di tempat aman seperti bank dan kas keliling BI dan bank-bank biar terhindar dari uang palsu,” katanya.

Puasa dan Lebaran memang peristiwa penuh berkah, meski begitu tetaplah berhati-hati untuk menghindari uang palsu yang bisa beredar di mana saja. (Ant).

Thrillhers – “A Girl Walks Home Alone At Night”

Posted on

Rooster Illusion

SaturdayMorningThrillher-02

Thrillhers is a column that takes a look at female directors in horror and how their movies are shaped by the socio-cultural implications of being female.  

Greetings, Rooster Illusion fans! Sarah from SciFridays here, back from hiatus and proud to introduce: Thrillhers, a brand new column! To kick things off, let’s take a look at Ana Lily Amirpour’A Girl Walks Home Alone At Night, an Iranian vampire film.

It would be safe to say that Amirpour, an Iranian-American born in England and raised in Miami, has created an amazingly unique movie that she self-described as a ‘vampire spaghetti western’. Filmed in black and white and featuring a jaunty opening song, the film is set in a fictional Iranian town called Bad City. Bad City is not the bustling bazaar-esque Iranian setting you’ve seen in the news – but rather like a small American town (shot, in fact, in California). Persian…

Lihat pos aslinya 895 kata lagi

A Woman on the Margins

Posted on

Longreads

Jessica Gross | Longreads | May 2015 | 17 minutes (4,223 words)

I first encountered the work of the memoirist, critic, and journalist Vivian Gornick in graduate school when we were assigned The Situation and the Story, her handbook on personal writing. Gornick explains that the writer must create out of her real self a separate narrative persona. The narrator has wisdom and distance the writer may not, and can craft a meaningful story out of the raw details of life. This slim book cracked open my understanding of what it means to write.

In Fierce Attachments, her 1987 memoir, Gornick wields her narrative persona to construct an incisive, nuanced portrait of her conflicted bond with her mother. She describes the Bronx tenements where she grew up, the early death of her father, the complex relationship with their neighbor Nettie and, at the center of it all, a…

Lihat pos aslinya 3.952 kata lagi